September 28, 2016

Bir Pletok Rasa Betawi

Bir Pletok Betawi dipastikan bebas alkohol. Mengapa sebutannya bir.....?

gambar bir pletok betawi
ASAL muasalnya minuman bir itu pastilah beralkohol. Tapi Bir Pletok Betawi satu-satunya pengecualian. Minuman khas asal Jakarta ini dijamin tidak mengandung bahan yang memabukkan itu.

Sebagian besar di antara kita pasti sepakat, "beer" atau "bir" sebetulnya dua kata yang sajenis. Kebetulan juga, jika ditelusuri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “bir” itu hanya serapan dari kata “beer” yang berasal dari bahasa asing.

Secara leksikal makna kedua kata itu adalah sejenis minuman beralkohol yang dihasilkan melalui proses peragian. Yang umum kadar alkohol dalam minuman bir berkisar 4-6% alcohol by volume (abv). Yang kurang dari 1% abv juga ada, cuma yang mencapai 40% abv juga banyak.

Dalam catatan European Beer Guide, minuman berbahan baku utama berupa malt ini merupakan minuman beralkohol yang terbanyak dikonsumsi di dunia. Pada 2012 misalnya, mengutip Kirin Holding Company, total produksi bir dunia mencapai 187 juta kiloliter.

Fakta lainnya, menurut Max Nelson dalam The Barbarian’s Beverage: A History of Beer in Ancient Europe, bir adalah minuman terpopuler ketiga di dunia setelah air putih dan teh.

Banyak juga yang berpendapat, kata John P. Arnold dalam Origin and History of Beer and Brewing: From Prehistoric Times to the Beginning of Brewing Science and Technology, bir adalah minuman fermentasi tertua yang pernah ada di dunia.

Para peneliti menduga minuman sejenis bir sudah ada sejak 9500 SM, bersamaan dengan mulai dikenalnya budidaya biji-bijian. Menurut Michael M. Homan dalam Beer and Its Drinkers: An Ancient near Eastern Love Story, hal ini terekam dalam catatan sejarah peradaban purba bangsa Irak juga Mesir.


Tak diketahui pasti sejak kapan orang Indonesia mulai mengenal minuman yang telah menjadi bisnis berskala global ini. Cuma, menurut cerita dari mulut ke mulut, orang-orang Betawi tempo dulu misalnya, sering melihat orang-orang Belanda meminum minuman dalam kaleng atau botol.

Saat acara pesta-pesta, jumlah minuman kemasan yang ditenggak itu akan berlipat-lipat jumlahnya. Tidak heran, sesudahnya orang-orang Belanda itu banyak yang mabuk, teler, dan tak sadarkan diri. Selidik punya selidik, orang-orang Betawi jadi paham nama minuman itu.

Karena saat itu penduduk Betawi hampir semuanya Muslim, mereka tak berani mencoba minuman orang Belanda itu. Haram soalnya. Tapi karena penasaran, tak diketahui siapa pelopornya, kemudian terpikirkan untuk membuat minuman serupa tapi bebas alkohol. Maka jadilah Bir Pletok Betawi.

Kata “bir”, versi kebudayaan Betawi, beda dengan “bir” atau “beer”.  Orang Betawi memungut kata itu dari bahasa Arab “bi’run” atau “abyar” yang berarti sumur atau sumber air. “Dulu orang Betawi yang pergi haji atau umroh ke Tanah Suci Mekkah punya kebiasaan ziarah ke Bir Ali (Sumur Ali)," kata budayawan Betawi Sofyan Murtadho.

Sementara asal mula istilah “pletok” sendiri versinya banyak. Di antaranya, berasal dari bunyi kulit kapulaga yang pecah saat direbus bersama sekitar 10 rempah-rempah lain yang menjadi bahan dasar Bir Pletok. Atau dari bunyi sewaktu ditariknya kayu gabus yang jadi penutup botol kemasannya.

Maklumlah sekarang bahwa Bir Pletok memang beda dengan beer atau bir pada umumnya. Alih-alih memabukkan Bir Pletok Betawi ternyata malah menyehatkan. (Y. Ahdiat; foto dari Rasamasa)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment