September 28, 2016

Suara Senar Sasando

Alat musik Sasando bisa jadi obat. Suara senar Sasando dapat menimbulkan efek relaksasi.....

gambar alat musik sasando
SUDAH jatuh tertimpa tangga pula. Sudah sakit malah dimusuhi pula. Kejadian itu benar-benar dialami oleh Lunggi Lain dan Balok Ama Sina. Selain dipandang sebelah mata oleh keluarganya, mereka juga dikucilkan bahkan diusir orang sekampungnya.

Sebabnya, kedua sahabat ini menderita kusta di sekujur tubuhnya. Pada satu masa, orang Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT) memang pernah beranggapan bahwa kusta adalah kutukan dan aib sangat memalukan.


Lunggi Lain dan Balok Ama Sina tak kuasa menolak hukuman itu. Tragisnya di pengasingan penyakit penggembala domba dan penyadap tuak ini makin mengganas saja. Lunggi bahkan harus menyerah kalah, lunglai tak berdaya. Ia tergeletak begitu saja di bawah rumpun pohon lontar (Borassus flabellifer).

Untungnya kondisi Balok masih lebih baik. Ia masih mampu bertahan dan punya sisa-sisa tenaga untuk mencari bahan makanan pengganjal perut. Tapi keadaan Lunggi makin hari makin memburuk saja. Sampai pada satu ketika ia seperti mendapatkan mukjijat sewaktu mendengar suara berirama lembut.

Saat itu ia merasakan getaran energi yang mendamaikan hatinya sekaligus menguatkan fisiknya. Singkat cerita, energi yang dipancarkan oleh suara itu bukan saja mengembalikan semangatnya, tetapi juga menyembuhkan penyakitnya. Setelah sadar, ia kemudian mencari tahu dari mana datangnya obat mujarab itu.

Pandangannya lalu terantuk pada seekor laba-laba yang tengah merajut sarangnya di sebuah pucuk daun lontar. Dengan seksama ia mengamati tiap kali kaki-kaki laba-laba itu menggetarkan sarangnya. Saat itulah terdengar bunyi merdu nan menyejukan.

Lunggi juga Balok yakin itulah rupanya obat penyakit kusta itu. Itu pula rupanya yang mengilhami keduanya untuk menciptakan sebuah alat musik yang bisa menghasilkan bunyi seperti dilakukan laba-laba.


Kemudian mereka membuat haik atau wadah setengah lingkaran dari daun lontar. Lalu di bagian cekungannya, beberapa utas fifik atau serat daun lontar direntangkan dari ujung ke ujung.

Karena mudah putus dan suaranya kurang bagus, seperti ditulis Djony L.K. Theedens dalam Mengenal Sasando Lebih Dekat, serat fifik selanjutnya diganti potongan bambu yang sudah dicungkil kulitnya hingga menjadi tali, kemudian diberi ganjalan kayu untuk pengaturan nadanya.

Karena suaranya bergetar atau meronta-ronta, alat musik ini lalu dinamai Sasandu atau lebih populer disebut dengan alat musik Sasando. Dalam khazanah dunia musik, alat musik Sasando termasuk kelompok sitar tabung bambu yang lahir dan berkembang di Asia Tenggara.

Mengutip Stanley Sadie dalam The New Grove Dictyonary of Music and Musicians, akibat migrasi penduduk alat musik ini menyebar jauh sampai Madagaskar yang menyebutnya sebagai Valiha.

Tentang alat musik Sasando sendiri, perkembangannya terbilang cepat. Semula alat musik petik ini punya tujuh, sembilan, lalu sepuluh senar dan dimainkan dengan irama gong (meko).

Selain alat musik Sasando Gong yang digunakan untuk mengiringi tari-tarian, pada jaman Portugis muncul jenis baru yang disebut dengan Sasando Biola untuk mengiringi tembang-tembang modern yang memiliki 30, 32 dan 36 dawai. Pada tahun 1960 bahkan sudah dibuat Sasando Elektrik dengan 30 senar.

Meski wujudnya sudah berevolusi, getar-getar senar alat musik Sasando tetap saja teras khidmat. Ketika para ta’e sasanu yang memakai topi ti’ilangga sudah memetik dawai-dawainya, bukan cuma Lunggi Lain dan Balok Ama Sina yang merasakan manfaatnya.

Merujuk hasil penelitian Freddy Giovanni Setiawan dkk. dalam Brain Stimulating Effects of Acoustic Sasando, frekuensi suara yang dihasilkan oleh alat musik Sasando memang memberikan efek relaksasi bagi pendengarnya. (Y. Ahdiat; foto dari Lensaindonesia)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment