December 27, 2016

Asal Mula Kota Banyuwangi

Asal Mula Kota Banyuwangi

asal mula kota banyuwangi
PADA suatu waktu, Kawasan ujung Timur Pulau Jawa diperintah oleh seorang Raja yang terkenal bijaksana dan disegani rakyatnya. Dalam menjalankan pemerintahannya, Raja dibantu seorang patih yang setia. Patih Sidapaksa namanya.

Istri Patih Sidapaksa berhati lembut dan amat jelita. Sayang sekali, ibu Patih Sidapaksa tidak menyukai menantunya. Hal ini disebabkan istri Patih Sidapaksa bukan berdarah biru. Ia cuma rakyat biasa.

Rasa benci di hati ibu Patih Sidapaksa semakin membara. Ia ingin memisahkan anaknya dengan menantunya. Suatu hari ia pergi menghadap raja. Ia membujuk Raja agar menugaskan anaknya pergi ke tempat yang jauh. Sehingga wanita itu punya kesempatan untuk menyingkirkan menantunya.

Raja tidak tahu maksud jahat perempuan tua itu. Dan oleh karena mulut manis perempuan itu, Raja malahan berjanji untuk mengabulkan permohonannya. Sepulang perempuan itu dari istana, Raja memanggil Patih Sidapaksa untuk menghadap.

"Patih Sidapksa, sudah lama kau tidak bepergian jauh. Aku yakin kau sudah rindu pergi mengembara. Bukankah kau dulu petualang yang tangguh?" kata Raja.

"Tugas apa yang hendak Raja berikan kepada hamba?" tanya Patih Sidapaksa.

"Permaisuriku ingin tetap berparas rupawan. Namun, untuk mempertahankan kecantikannya, ia butuh sekuntum bunga yang tumbuh di puncak Gunung Ijen. Pergilah ke puncak Gunung Ijen dan petiklah bunga itu buat istriku," Sabda Raja.

"Baik Raja. Besok pagi hamba akan berangkat ke Gunung Ijen," jawab Patih Sidapaksa.

Patih Sidapaksa pulang ke rumah dengan lesu. Di sepanjang jalan ia sibuk memikirkan istrinya yang sedang hamil tua. Akan tetapi, ia pun tak berani melawan perintah Raja.

"Kanda, Kenapa kau tampak sedih?" tanya istri Patih Sidapaksa.

Patih Sidapaksa memandang malam yang kelam. Kemudian, ia berkata, "Dinda, esok pagi aku harus pergi jauh. Raja menyuruhku ke puncak Gunung Ijen.

"Lalu, apa yang membuat Kanda bersedih?" tanya istrinya lagi.

"Aku tak tega meninggalkan kau sendirian. Tak lama lagi, engkau mungkin akan melahirkan," Patih Sidapaksa menuturkan kesedihannya.

"Kanda jangan pikirkan diriku. Aku bisa menjaga diri. Tugas Raja harus dijalankan. Nah, malam telah larut, kau harus segera tidur," hibur istri yang bijaksana itu.

Malam itu Patih Sidapaksa tidur dengan gelisah. Esok paginya, sebelum meninggalkan rumah, ia berpesan pada istrinya," jagalah dirimu baik-baik dan berilah aku anak yang manis."

"Baik, Kanda" jawab istrinya lembut.

Tak lupa, Patih Sidapaksa pamit pada ibunya. Perempuan tua itu berkata dengan,"Jangan tergesa-gesa kembali. Tak usah kau pikirkan istrimu. Aku akan menjaganya dengan baik."

"Oh, terima kasih, Ibu," ujar Patih Sidapaksa. Lalu, ia pergi meninggalkan ibu dan istri yang amat dicintainya.

Tak lama, istri Patih Sidapaksa melahirkan bayi laki-laki. "Semoga kelak kau sehebat ayahmu Nak," bisik istri Patih Sidapaksa dengan bangga.

Beberapa hari kemudian, ketika anaknya sedang tidur nyenyak, istri Patih Sidapaksa pergi mandi ke pancuran. Pada waktu itu diam-diam ibu mertuanya masuk ke kamar itu. Perempuan yang jahat itu lalu membawa bayi itu ke tepi sungai tak jauh dari rumahnya. Sebuah sungai yang deras, airnya keruh dan bau.

Perempuan tua itu memandang bayi itu dengan rasa benci. Aneh sekali, padahal bayi itu cucunya sendiri! Lalu setelah mengumpat-ngumpat, sekonyong-konyong dilemparkannya bayi itu ke tengah sungai. Tubuh mungil itu pun lenyap ditelan air sungai yang kelam.

Sementara itu, istri Patih Sidapaksa pulang dari pancuran. Tentu saja ia sangat bingung mengetahui anaknya lenyap. Dengan panik ia segera mencarinya ke sana kemari.

"Oh siapa yang menculikku?" desahnya. Ia mencari anaknya ke mana-mana. Namun, bayi mungil itu tidak ditemukannya. Karena sedih, istri Patih Sidapaksa jatuh sakit. Ia tak mau makan dan minum hingga tubuhnya amat kurus dan lemah.

Dua tahun kemudian, Patih Sidapaksa pulang ke rumah. Patih itu telah berhasil melaksanakan amanat rajanya. Ia memacu kudanya kencang-kencang. Ia amat rindu pada sang istri, di samping itu ia juga ingin melihat anaknya.

Tiba di depan rumah, Patih Sidapaksa disambut oleh ibunya. Perempuan jahat itu menghasut anaknya.

"Anakku, ternyata istrimu seorang yang bengis. Ia tega membunuh anaknya sendiri. Setelah melahirkan bayi laki-laki, istrimu membawa anaknya ke sungai. Lalu, perempuan berhati iblis itu melemparkan anaknya ke dalam sungai."

Agaknya hasutan itu berhasil mempengaruhi pikiran Patih Sidapaksa. Tanpa meneliti kebenaran cerita ibunya dengan seksama, Patih Sidapaksa langsung mencari istrinya. Setelah bertemu, laki-laki itu menumpahkan amarahnya pada perempuan malang itu.

Sang istri mencoba menerangkan kejadian sebenarnya. Akan tetapi, Patih Sidapaksa yang sedang kalap itu tidak mau mendengar. Bahkan ia menyeret istrinya ke pinggir sungai.

Istrinya berkata, "Kanda, janganlah percaya pada cerita Ibunda. Sungguh, aku tidak pernah berbuat sekeji itu."

"Lalu, kemana anakku?" bentak Sidapaksa.

“Sungguh aku tidak tahu Kanda," ujar perempuan malang itu. Dicobanya menjelaskan kepada suaminya. Namun, Patih Sidapaksa tetap tak mau percaya. Ia tetap menuduh istrinya seorang pembunuh.

Kemudian, Patih Sidapaksa menghunus kerisnya. "Seorang Ibu yang tega membunuh anaknya sungguh tak pantas hidup di dunia ini!" bentak Sidapaksa. "Akan kubalaskan dendam anakku!"

Istrinya mengeluh, putus asa, "Kanda nampaknya tak percaya lagi padaku. Baiklah, aku juga tidak mungkin memaksa. Namun, Kanda tak perlu bersusah payah membunuhku. Sebab, sebentar lagi aku akan mati."

Segera perempuan itu melepaskan diri dari pegangan suaminya, lalu menceburkan diri ke sungai. Sebelum tubuhnya lenyap ditelan air sungai, wanita itu sempat berteriak, "Kanda, saksikanlah! Jika air sungai ini menjadi harum, berarti aku tidak bersalah!"

Tiba-tiba terjadilah suatu keajaiban! Bau nan harum merebak di sekitar sungai itu. Sementara di tengah permukaan sungai muncul dua kuntum bunga air. Yang satu besar yang satu kecil. Yang besar adalah penjelmaan istri Patih Sidapaksa, sedang yang kecil penjelmaan anaknya.

Patih Sidapaksa tertegun. Bunga yang kecil ternyata bisa bersuara. “Ayah, akulah anakmu. Ibuku tak berdosa. Yang menenggelamkan aku adalah Nenek."

Dapat dibayangkan betapa sedih dan menyesalnya Patih Sidapaksa sesudah mendengar penjelasan itu. Patih itu menangis melolong-lolong, meratapi kematian anak dan istrinya, juga menyesali kebodohannya. Namun sudah terlambat!

Sejak itu, sungai yang tadinya berair keruh dan berbau itu menjadi jernih dan harum baunya. Dalam bahasa Jawa disebut banyuwangi. Artinya air yang harum.

Nama Banyuwangi kemudian menandai kawasan di sekitar sungai itu. Dan hingga sekarang dikenal sebagai Kota Kota Banyuwangi. (Dwianto Setyawan, Ceri Rakyat Dari Jawa Timur)

November 24, 2016

Legenda Gunung Arjuna

Legenda Gunung Arjuna

gambar legenda gunung arjuna
DI sebelah utara Kota Batu, Malang, terdapat sebuah gunung. Gunung Arjuna, namanya. Di pagi hari, Gunung Arjuna tampak menjulang megah. Sesekali puncak gunung itu tampak mengeluarkan asap.

Dulu menurut legenda, tinggi gunung itu hampir menyentuh langit. Namun, kini Gunung Arjuna hanya setinggi 3.339 m. Ini disebabkan keangkuhan Arjuna.

Arjuna adalah pemuda rupawan. Ia anak ketiga dari lima bersaudara Pandawa. Oleh karena itu, disebut penengah Pandawa. Arjuna jago memanah. Ia pun sakti mandraguna. Dewa memberikan kesaktian itu karena ia gemar bertapa.

Suatu hari, Arjuna kembali ingin bertapa. Ia pergi mengembara keluar-masuk hutan. Berbulan-bulan ia berjalan sampai ia tiba di sebuah gunung. Lalu ia bersila dan mulai bersemadi.

Berbulan-bulan Arjuna bertapa di situ. Siang malam ia bersemadi, sehingga tubuhnya bersinar-sinar, mengeluarkan kekuatan yang dahsyat.

Hasil bertapa Arjuna ternyata membawa akibat yang mengejutkan. Puncak gunung tempatnya bertapa terangkat ke atas hingga hampir menyentuh langit.

Kayangan tempat para dewa berguncang. Batara Narada pun terburu-buru terbang ke bumi. Ia pergi menyidik untuk mengetahui apa yang menyebabkan kayangan berguncang hebat.

Batara Narada menemukan Arjuna di gunung itu. "Arjuna, bangunlah! Semua orang dan para dewa akan celaka bila kau tak mau menghentikan tapamu!"

Sebenarnya Arjuna mendengar perintah Batara Narada itu. Namun, keangkuhan hatinya menyebabkan ia tak mau mengakhiri tapanya.

"Kalau aku tak mau bangun, para dewa pasti kebingungan. Mereka akan menghadiahi aku senjata dan kesaktian yang lebih banyak," pikir Arjuna. Lalu, ia pun semakin tekun bersemadi.

Batara Narada kebingungan. Ia tak berhasil membangunkan Arjuna, meskipun ia sudah membujuk dan menjanjikan berbagai kesaktian kepadanya.

"Aku harus segera melapor kepada Batara Guru," ujar Batara Narada putus asa. Ia pun bergegas kembali ke kayangan.

"Oh, Adik Guru! Cepatlah bertindak! Kalau tidak, Arjuna akan menimbulkan bencana buat kita semua," lapor Batara Narada.

"Huh! jadi semua ini gara-gara Arjuna. Mau apa sebenarnya penengah Pandawa itu?" gerutu Batara Guru. Lalu, ia memanggil sejumlah bidadari cantik. Perintahnya, "Goda Arjuna sampai ia mau mengakhiri tapanya!"

"Baik, Batara Guru," sahut para bidadari itu. Lalu, mereka terbang ke bumi.

Setibanya di tempat Arjuna, para bidadari cantik itu mulai merayu dengan suara lembut. Segala cara mereka pakai untuk membangunkan Arjuna dari tapanya. Namun, Arjuna tidak bergeming. Ia tidak tergoda sedikitpun oleh rayuan mereka.

Para bidadari jelita itu kembali ke kayangan dengan kecewa. Salah satu bidadari melapor kepada Batara Guru, "Ampun, Batara, kami tak berhasil menggoda Arjuna."

"Hm, kalau begitu panggil semua dedemit! Perintahkan mereka untuk menakut-nakuti Arjuna!" perintah Batara Guru.

Sepasukan dedemit dikirim ke gunung tempat Arjuna bertapa. Mereka pun menakut-nakuti Arjuna dengan segala cara. Namun, penengah Pandawa itu tetap tidak bergeming. Ia seakan terlena dalam tapanya.

Para dedemit segera melaporkan kegagalan mereka kepada Batara Guru. Betapa gundah hati Batara Guru. Ia berjalan mondar-mandir untuk mengurangi keresahan hatinya.

Di saat nyaris putus asa, tiba-tiba Batara Guru teringat Dewa Ismaya. Dewa Ismaya itu tak lain adalah Semar yang menjadi Punakawan Arjuna.

"Batara Narada, turunlah ke bumi! Temui Kakang Semar! Suruh ia membujuk Arjuna agar bersedia bangun dari tapanya!" ujar Batara Guru.

"Baik, Adik Guru," jawab Batara Narada. Ia segera melesat ke bumi.

Setibanya di tempat Semar, Batara Narada menceritakan keresahan hati Batara Guru.

"Oh, mengapa Arjuna bisa begitu? Biasanya, ia seorang satria yang baik," gumam Dewa Ismaya. Lalu, ia berjanji kepada Batara Narada, "Katakan pada Batara Guru agar tetap tenang. Aku akan segera pergi menemui Arjuna. Semoga aku bisa menyadarkan anak asuhanku itu."

"Terima kasih, Dewa Ismaya. Kuharap kau berhasil," sahut Batara Narada. Ia pun kembali ke kayangan.

Semar termenung sendirian. Ia sibuk mencari akal. "Aku akan minta bantuan Togog," gumam Semar beberapa waktu kemudian. Lalu, ia berangkat ke rumah adiknya.

"Oh, Kakang Semar! Ada perlu apa Kakang ke sini?" sapa Togog riang.

"Aku butuh bantuanmu Togog," sahut Semar. Lalu ia menceritakan perihal tugas yang diberikan Batara Guru kepadanya.

"Apa yang akan kita perbuat Kakang?" tanya Togog.

"Kita harus memotong puncak gunung tempat Arjuna bertapa," jawab semar. "Mari cepat berangkat, Adikku!"

"Mari, Kakang Semar," sambut Togog bersemangat.

Kedua kakak beradik itu segera berangkat. Setibanya di gunung tempat Arjuna bertapa, mereka berpencar. Masing-masing menempati sisi gunung itu. Lalu, mereka bersemadi.

Berkat kesaktian mereka tubuh mereka berubah menjadi tinggi besar. Tingginya melampaui puncak gunung itu. Lalu, mereka mengeruk bagian bawah puncak, dan memotongnya!

"Ayo kita lemparkan puncak gunung ini ke tempat lain," kata Semar. Mereka melemparkan puncak gunung itu ke sebelah tenggara Kota Batu. Terdengarlah suara berdebum saat potongan gunung itu mendarat di bumi.

Arjuna terbangun dari tapanya. Ia amat terkejut ketika melihat Semar dan Togog di hadapannya.

"Apa yang terjadi, Uwa Semar?" tanya Arjuna.

Semar tersenyum bijaksana. Lalu, ia berujar tenang, "Kami baru memotong dan melemparkan puncak gunung ini, Raden."

"Kenapa kau lakukan itu Uwa Semar? Dewa pasti tak jadi memberiku banyak senjata dan kesaktian," kata Arjuna.

"O, itukah keinginan Raden? Masih belum cukupkah kesaktian yang Raden miliki sekarang ini?" jawab Semar.

Lalu, Semar memberi nasihat, "Sadarlah, Raden. Raden adalah seorang satria sakti yang disegani setiap orang. Oleh karena itu, Raden harus rendah hati dan tidak sombong. Keangkuhan hati Raden bisa menimbulkan malapetaka bagi diri Raden, juga bagi orang lain."

Oh, betapa malunya Arjuna. Ia buru-buru minta maaf. "Saya telah khilaf, Uwa Semar. Maafkan sikap saya."

"Syukurlah kau akhirnya sadar, Raden. Kalau tidak, Sang Hyang Wenang, raja segala dewa pun, tak akan memaafkan perbuatanmu tadi," ujar Semar sembari tersenyum.

"Terima kasih atas bantuan kalian, Uwa Semar dan Uwa Togog," ucap Arjuna.

"Kukira tugas kita telah selesai, Kakang. Mari kita Pulang!" ajak Togog.

"Aku setuju, Uwa Togog. Aku pun sudah rindu pada Petruk, Gareng, dan Bagong," sambut Arjuna.

Ketiga orang itu pun segera meninggalkan tempat itu.

Sejak itulah gunung tempat Arjuna bertapa diberi nama Gunung Arjuna. Sedangkan puncak gunung yang dilemparkan oleh Semar dan Togog dinamai Gunung Wukir. (Dwianto Setyawan, Ceri Rakyat Dari Jawa Timur)

October 28, 2016

Identitas Calung Banyumasan

Identitas Calung Banyumasan

Calung Banyumasan sekilas mirip gamelan Jawa. Bedanya terbuat dari bambu wulung. Calung Banyumasan menjadi identitas budaya yang blaka suta dan berbahasa ngapak.....

gambar calung banyumasan
PADA mulanya adalah bambu wulung (carang pring wulung). Ketika dipukul-pukul bunyinya nyaring (dicacah melung-melung). Dan suara itu terlempar (uncal) atau terdengar sampai jauh. Maka jadilah alat musik calung.

Karena peristiwanya terjadi di wilayah budaya Banyumas, alat musik itu kemudian disebut dengan uncal wulung, Calung Banyumas atau Calung Banyumasan.


Calung Banyumasan sering juga dinamai Gamelan Calung, karena punya kesamaan dengan perangkat gamelan Jawa. Misalnya, ada gambang, barung, gambang penerus, dhendhem, kenong, gong bumbung, dan kendang.

Tapi pasti ada bedanya. Gamelan versi calung terbuat dari bilah-bilah bambu yang disayat-sayat sedemikian rupa sampai melengkung hingga menghasilkan bunyi yang mirip suara gamelan sungguhan.

Supaya bunyi Calung Banyumasan lebih sempurna, kualitas bambunya juga tak bisa sembarangan. Misalnya bambunya harus benar-benar tua dan siap tebang, serta bersih atau bebas dari hama penyakit.

Mutu bambu kelas ini hanya ada pada masa watang, atau periode terakhir dari empat siklus hidup bambu sesuai perhitungan Jawa. Tiga periode sebelumnya masing-masing adalah masa bubukan, masa slusur, dan masa kumbang.

Batang bambu yang sudah ditebang harus dibiarkan dulu sampai kering dan rontok daun-daunnya. Sesudahnya dibersihkan ranting dan ruasnya dan dipotong-potong sesuai kebutuhan.

Kemudian diangin-anginkan lagi di atas para-para sampai benar-benar kering dan siap untuk dibuat Calung Banyumasan. Biasanya proses pengeringan bambu tanpa sinar matahari langsung ini, membutuhkan waktu enam hingga delapan bulan.


Sesuai namanya, alat musik Calung Banyumasan yang berlaras salendro ini, tumbuh dan berkembang di lingkungan budaya Banyumasan. Istilah ini merujuk pada kesatuan budaya, bahasa dan juga karakter masyarakat di seluruh wilayah eks Karesiden Banyumas, Jawa Tengah.

Kultur itu menjadi karakter masyarakat Brebes, Tegal, Pemalang, Cilacap, Kebumen, Banjarnegara, Purbalingga, dan Banyumas.

Di lingkungan itulah Calung Banyumasan menemukan tempatnya. Karenanya, alat musik tradisional calung ditemukan pada banyak aspek kehidupan masyarakat, baik yang bersifat spiritual maupun seremonial.

Mengikuti perjalanan panjang budaya Banyumas, alat musik calung juga berkolaborasi dengan beragam kesenian Banyumas lainnya seperti seni ronggeng lenggeran, badutan, jaranan, dan baladewan.

Calung Banyumasan menjadi kanal untuk menumpahkan perasaan, pikiran, sikap, kritik, sindiran, falsafah hidup, impian, harapan, cita-cita dan sebangsanya. Seni calung menjadi semacam pentas untuk melukiskan segala nilai-nilai ideal tentang kehidupan.

Calung menjadi sejenis media untuk menggambarkan warna-warni realitas kehidupan. Pertunjukan seni calung tak ubahnya sebuah potret dan gagasan kehidupan masyarakat yang dimainkan oleh sekelompok masyarakat berbudaya kulonan yang blaka suta, terbuka, polos, humoris, dan berbahasa ngapak.

Calung Banyumasan adalah bunyi nyaring identitas budaya Banyumasan. (Y. Ahdiat; foto dari Febriantipratiwi )

October 25, 2016

Cerita Keong Mas

Cerita Keong Mas

DEWI Galuh Candra Kirana adalah putri raja yang memerintah Kerajaan Daha. Tutur katanya lemah lembut, parasnya cantik jelita. Belum lama Candra Kirana dipertunangkan dengan Raden Inu Kertapati, Putra Mahkota Kerajaan Kahuripan.

gambar cerita keong mas
Inu Kertapati seorang pemuda tampan serta bijaksana, Cocok sebagai pasangan Candra Kirana. Kebanyakan orang ikut bergembira menyambut pertunangan agung itu. Namun, tidak demikian dengan Galuh Ajeng.

Gadis yang juga berdarah biru serta mempunyai hubungan dekat dengan Candra Kirana itu agaknya merasa cemburu. Hal itu disebabkan ia juga bercita-cita menjadi istri Raden Inu Kertapati.

"Aku harus berusaha menggagalkan pernikahan mereka," pikir Galuh Ajeng dengan geram. Guna mendukung rencana jahatnya, Galuh Ajeng lalu menemui seorang nenek sihir. Ia meminta agar ilmu sihirnya yang jahat dapat mencelakakan Dewi Candra Kirana. Galuh Ajeng juga menyebarkan fitnah atas diri Candra Kirana.

Konon, Baginda Raja Daha terkena pengaruh ulah keji Galuh Ajeng. Hingga akhirnya ia tidak segan-segan mengusir Candra Kirana dari istana. Bahwa Candra Kirana adalah anak kandungnya sendiri, tampaknya tidak lagi menjadi pertimbangan Sang Raja.

Sejak itu, Dewi Candra Kirana hidup terlunta-lunta. Putri yang malang itu berjalan tak tentu arah tujuan. Hingga pada suatu saat ia tiba di sebuah pantai. Di sini, oleh karena kutukan tukang sihir jahat, sang putri lalu berubah menjadi seekor keong keemasan.

Lidah ombak yang menjilat pantai, kemudian menghanyutkan keong emas itu ke laut. Keong emas terbawa ombak, terombang-ambing, hingga akhirnya terdampar di sisi pantai yang lain. Sebuah pantai yang terletak tidak jauh dari sebuah desa yang dinamakan Dadapan.

Di desa Dadapan, tinggal seorang nenek pencari ikan. Pada suatu hari ketika si nenek melakukan pekerjaannya, ia menemukan keong emas.

"Wow! Cantiknya keong ini!" seru Nenek sambil mengamati keong emas yang tergolek di atas hamparan pasir putih. "Marilah ikut ke rumah Nenek. Akan kupelihara kamu dengan baik." Nenek pencari ikan lalu membawa keong emas pulang.

Nenek menyimpan keong aneh itu dalam sebuah tempayan. Suatu hari, seperti biasa, Nenek Dadapan berangkat ke pantai mencari ikan. Namun, agaknya hari itu nasibnya sedang sial.

"Uhhh, tak seekor ikan pun kudapat hari ini. Dasar sial," keluhnya. Dengan tangan hampa, Nenek Dadapan pun pulang ke gubuknya yang reot.

Sesampainya di rumah, Nenek Dadapan merasa terheran-heran. Betapa tidak, di atas balai-balai dilihatnya aneka makanan yang lezat-lezat. Nampaknya makanan itu belum lama dimasak.

Karena perutnya sangat lapar, Nenek tidak berpikir lebih lama lagi. Langsung saja disikatnya makanan itu.

Baru sesudah itu si Nenek termenung memikirkan peristiwa aneh yang dialaminya. "Siapa yang memasak semua tadi?" pikirnya menebak-nebak. Namun Nenek Dadapan tetap tidak menemukan jawabannya.

Pada hari-hari berikutnya, peristiwa itu berulang terus. Tentu saja Nenek menjadi semakin penasaran. Suatu hari ia berpura-pura berangkat ke pantai . Namun, sesudah menempuh beberapa langkah dari rumah, ia bergegas kembali. Dengan hati-hati, Nenek lalu bersembunyi. Mengintai ke dalam.

"Hahhh?!" serunya kaget, ketika dilihatnya ada asap mengepul dari tempayan tempat keong emas dia simpan. Nenek lebih tercengang lagi pada saat dilihatnya seorang putri jelita muncul dari balik asap tadi.

Kemudian sang Putri nampak berjalan ke dapur. Di situ ia menghidupkan api, menanak nasi, dan memasak lauk pauk.

Nenek mengikuti gerak-gerik putri ajaib itu dengan cermat. Ia tidak mengerti bagaimana hal itu dapat terjadi. Ia juga tidak tahu dari mana bahan-bahan yang dimasak itu berasal.

Lama-kelamaan karena tak dapat menahan diri, Nenek pun menghambur keluar dari tempat persembunyiannya.

"Siapa kamu, Putri cantik?"

Putri itu, yang tak lain adalah Dewi Candra Kirana, menoleh terkejut.

"Saya.... saya adalah Putri Raja Daha, Nek. Saya menjadi keong karena ulah saudara saya sendiri, yang merasa iri padaku. Dia lalu meminta seorang tukang sihir agar mengutuk saya. Pengaruh kutukan itu baru akan hilang jika saya sudah bertemu dengan tunangan saya."

Setelah berkata demikian, tubuh Candra Kirana berubah menjadi kecil, semakin kecil, hingga akhirnya kembali menjadi keong emas.

Nenek Dadapan tercenung. "Ohh, rasa iri memang menyesatkan. Rasa iri juga bisa membuat orang lain menderita," keluhnya. Kemudian Nenek Dadapan berdoa pada dewata, memohon supaya kutukan yang diderita Dewi Candra Kirana segera berakhir.

Sementara itu, Raden Inu Kertapati mendengar tentang nasib Dewi Galuh Candra Kirana. Tentu saja ia tidak tinggal diam. Raden Inu Kertapati segera menemui Raja Daha guna mengusut perkara itu.

Akhirnya ia dapat membuktikan perbuatan keji Galuh Ajeng. Galuh Ajeng dan tukang sihir itu pun langsung dijatuhi hukuman. Kemudian Raden Inu Kertapati berangkat mencari tunangannya. Berbulan-bulan lamanya pemuda itu berkelana, hingga akhirnya ia tiba di desa Dadapan.

Panas terik membuat Raden Inu Kertapati kehausan. Saat itu ia melihat sebuah gubuk. Ia menghampiri gubuk itu sekedar untuk meminta minum. Pada saat itulah Raden Inu Kertapati melihat Dewi Candra Kirana. Dilihatnya tunanganya melongokk keluar pintu gubuk.

"Adinda Dewi!" teriak Raden Inu Kertapati dengan rasa girang yang meluap-luap. Rasa haus dan penat tak dihiraukannya lagi. Pemuda itu langsung menghambur ke arah kekasihnya.

"Oh, Kakanda!" balas Candra Kirana.

Terjadilah sebuah perjumpaan yang mengharukan. Dan cinta yang suci di antara kedua insan itu serentak membatalkan kutukan nenek sihir jahat. Candra Kirana tak perlu berubah diri menjadi seekor keong lagi.!

Candra Kirana lalu mengajak tunangannya masuk ke rumah. Di situ keduanya mengobrol dan menceritakan pengalaman masing-masing.

Tak lama kemudian, Nenek Dadapan muncul. Candra Kirana memperkenalkan Raden Inu Kertapati kepada nenek yang baik hati itu. Tentu saja Nenek ikut merasa bahagia.

Raden Inu Kertapati lalu memboyong tunangannya kembali ke istana. Nenek Dadapan diajaknya pula.

Tak lama sesudah itu pernikahan agung pun dilakukan. Pengantinnya ialah Raden Inu Kertapati dan Dewi Candra Kirana. (Dwianto Setyawan, Ceri Rakyat Dari Jawa Timur)

October 24, 2016

Asal-usul Upacara Kasada

Asal-usul Upacara Kasada

gambar asal usul upacara kasada
RARA Anteng dan Jaka Seger sangat bahagia dapat hidup bersama sebagai suami istri. Akan tetapi, kebahagian itu agak terganggu karena Rara Anteng cukup lama tidak juga mengandung.

"Padahal sudah bertahun-tahun kami menikah," keluh Jaka Seger risau. Laki-laki itu lalu sering nampak bermuram durja.

Rara Anteng bukannya tidak memahami penyebab kerisauan suaminya. Ia sendiri sering merasa gundah memikirkan keadaan itu.

"Duh, Dewata, kapankah hari yang membahagiakan itu tiba? Suatu hari, pada saat aku dapat mengabarkan kepada suamiku, bahwa aku sudah mulai mengandung. Tetapi, kapan?" Wanita cantik itu menengadah, memandang langit dengan wajah rusuh.

Akhirnya Rara Anteng dan Jaka Seger membicarakan permasalahan yang mereka hadapi secara terbuka.

"Kita harus melakukan sesuatu supaya keinginan kita terkabul," usul Jaka Seger.

"Ya, aku setuju. Kita memohon kepada Hong Pukulun (Tuhan) dengan lebih bersungguh-sungguh. Apakau kau siap melakukan permohonan dengan cara bersemadi dalam jangka waktu yang lama?" tanya Rara Anteng.

"Apa pun akan kulakukan, asal kita bisa mempunyai keturunan," sahut Jaka Seger mantap.

Sesudah tercapai kesepakatan, pasangan suami istri itu lalu menyucikan diri. Kemudian secara bersama-sama pula mereka bersemadi, mengheningkan cipta, memohon kemurahan Hong Pukulun.

Dalam suasana memohon yang khusyuk itu terungkap pula janji mereka, "Berilah kami keturunan, banyak keturunan! Jika permohonan kami terkabul kami akan rela mengorbankan anak bungsu kami ke kawah Gunung Bromo."

Agaknya permohonan mereka dikabulkan. Buktinya, tak lama sesudah mereka melakukan upacara permohonan dengan sumpah yang berat itu, Rara Anteng mengandung.

"Permohonan kita terkabul, Kanda! Kita akan punya anak!" kata Rara Anteng memberi tahu suaminya dengan wajah berseri-seri. Ketika saatnya tiba Rara Anteng pun melahirkan anaknya yang pertama.

Ternyata pasangan suami-istri itu tidak hanya mempunyai dua atau tiga anak. Akhirnya mereka mempunyai dua puluh lima anak! Anak mereka yang lahir paling akhir diberi nama Raden Kusuma.

Selama itu Rara Anteng dan Jaka Seger seakan-akan lupa sumpah mereka kepada Dewata. Namun, semenjak kelahiran Raden Kusuma, dan Rara Anteng tidak hamil lagi, sumpah itu mulai menganggu pikiran mereka.

Rara Anteng lalu sering nampak muram setiap kai memperhatikan putra bungsunya. Demikian pula Jaka Seger, hatinya tak kalah risau dengan istrinya.

Pada suatu hari, Rara Anteng dan Jaka Seger mendiskusikan masalah sumpah mereka. "Tidak mungkin kita mengorbankan Kusuma," katanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ibu mana yang sampai hati mencemplungkan anaknya ke dalam kawah?"

"Aku mengerti, Dinda. Akan tetapi, jangan lupa kita sudah bersumpah di hadapan Dewata. Kukira kita tidak bisa mengingkarinya begitu saja," sahut suaminya.

"Apakah Kanda tega mengorbankan Kusuma?" tukas Rara Anteng.

"Aku...aku...." Jaka Seger tidak mampu melanjutkan omongannya. Lelaki itu diam termangu. Lama kemudian baru ia berkata, "Sama dengan engkau aku juga tidak tega, akan tetapi aku takut Dewata akan mengutuk kita."

"Aku ada akal. Sebaiknya kita pindah saja. Kita jauhi tempat ini demi keselamatan Raden Kusuma," usul Rara Anteng.

Setelah menimbang-nimbang untung ruginya, mereka benar-benar memutuskan untuk pindah. Tempat tinggal baru yang mereka pilih adalah di lereng Gunung Pananjakan.

Pada hari yang ditentukan, rombongan keluarga besar itu nampak berjalan beriringan menuju Gunung Pananjakan. Mereka membawa peralatan dan perlengkapan seperlunya untuk memulai hidup baru di lereng gunung itu.

Akan tetapi apa yang terjadi?

Belum jauh keluarga besar itu berjalan, sekonyong-konyong perut Gunung Bromo bergemuruh. Kawahnya yang sebelumnya tenang mulai menggelegak. Makin lama semakin dahsyat. Lalu muncullah lidah api dari mulut gunung itu.

Rara Anteng dan keluarganya dicekam ketakutan.

"Dewata murka Dinda, karena kita telah mengingkari sumpah kita," kata Jaka Seger. Suaranya terdengar parau, tercekat.

"Aku tahu," sahut Rara Anteng dengan muka memucat. "Akan tetapi, tak ada pilihan lain. Kita harus terus. Kita harus bergegas, sebelum keadaan makin memburuk." Lalu ia memberi komando kepada putra-putrinya, "Ayo, anak-anak! Cepat! Lari! Lari!"

Keluarga itu berusaha sekuat tenaga menjauhi bencana. Sebuah malapetaka nampaknya akan ditimpakan oleh Gunung Bromo yang seolah-olah murka. Akan tetapi, Dewata lebih berkuasa.

Tiba-tiba lidah api yang berasal dari kawah menjulang ke angkasa. Kemudian, bagaikan sehelai selendang panjang berwarna merah menyala, lidah api itu meliuk dan meliuk. Lalu menyabet tubuh Raden Kusuma.

"Anakku!" jerit Rara Anteng.

Namun, sudah terlambat. Dengan cepat lidah api itu surut kembali ke arah gunung, dan menghilang ke dalam kawah. Raden Kusuma terbawa bersamanya.

Korban yang diincarnya hanya satu, Raden Kusuma, si anak bungsu!

Jerit tangis ibu, ayah dan saudara-saudarinya mengiringi lenyapnya Raden Kusuma ke dalam kawah Gunung Bromo. Namun apa yang bisa mereka lakukan?

Sementara itu, perlahan-lahan kawah Gunung Bromo menjadi tenang kembali. Di tengah suasana hening yang terasa mencekam, terdengarlah suatu-suara gaib. Suara Raden Kusuma…

"Ayah, Ibu, aku telah menjadi korban sumpah kalian kepada Dewata. Akan tetapi, aku tidak menyesal. Aku benar-benar rela menjadi korban demi kebahagiaan kalian. Ayah, Ibu, dan saudara-saudaraku, kudoakan semoga kalian dapat hidup bahagia dan sejahtera. Juga anak cucu kalian.

Namun ada satu pesanku, untuk mengenang peristiwa ini dan pengorbananku, datanglah kalian ke Bromo setahun sekali. Bawalah sesaji.”

Permintaan itu tak diabaikan oleh keluarga Raden Kusuma juga oleh setiap orang Tengger yang menjadi keturunan mereka. Tiap tahun mereka membawa hasil pertanian serta sesajen dan melemparkannya ke kawah Gunung Bromo pada Upacara Kasada. (Dwianto Setyawan, Ceri Rakyat Dari Jawa Timur)

Rara Anteng

Rara Anteng

WAKTU Kerajaan Majapahit diserang musuh, semua penduduknya pergi mengungsi. Demikian pula dewa-dewa yang pada saat itu turun ke dunia.

gambar cerita rara anteng
Rakyat Majapahit lalu tinggal di lereng Gunung Bromo, sedangkan para dewata memilih tinggal di lereng gunung Pananjakan yang letaknya jauh dari Gunung Bromo.

Seorang Dewi menitis menjadi manusia. Sewaktu dilahirkan, bayi perempuan titisan dewi itu berparas cantik. Ia tidak menangis seperti bayi-bayi lainnya, sehingga bayi itu diberi nama Roro Anteng atau Rara Anteng.

Pada saat yang bersamaan, istri seorang pendeta melahirkan bayi laki-laki. Bayi itu amat tampan dan bercahaya wajahnya. Tenaganya sangat luar biasa, genggamannya erat, tendangannya kuat dan tangisnya kencang. Lalu ia dinamai Jaka Seger.

Hari demi hari kedua bayi itu menjadi besar. Jaka Seger berubah menjadi seorang pemuda rupawan. Rara Anteng menjelma menjadi seorang gadis manis. Karena sering bertemu, kedua remaja itu pun saling menaruh hati.

Namun, Rara Anteng yang jelita menjadi rebutan para pemuda. Mereka berlomba-lomba ingin meminangnya. Sayang sekali, cinta Rara Anteng hanya untuk Jaka Seger. Ia pun menolak semua pinangan untuknya.

Suatu hari, seorang perompak yang sakti datang meminang Rara Anteng. Kali ini Rara Anteng tak berani langsung menolak pinangannya. Sebab selain sakti perompak itu amat bengis.

"Aku bersedia menjadi istrimu asalkan kau sanggup membuat lautan di tengah-tengah gunung," ujar Rara Anteng dengan lemah lembut.

"Hahahaha...! Pekerjaan itu amat mudah. Aku sanggup melakukannya untukmu," sahut perompak itu pongah.

"Jangan bergirang dulu, karena lautan itu harus selesai dalam waktu satu malam saja. Ketika matahari terbenam, kau boleh mulai membuat lautan itu. Esok paginya, sewaktu ayam jantan pertama kali berkokok, lautan itu harus selesai," Rara Anteng menambahkan.

"Demi dirimu aku akan melakukan permintaanmu itu. Tunggu sampai besok pagi, Rara Anteng. Kau akan menjadi istriku," kata perompak itu.

Tepat pada saat matahari terbenam, perompak itu mulai bekerja. Ia mengeruk sisi-sisi Gunung Bromo dengan sebuah tempurung kelapa. Semalam suntuk perompak itu bekerja. Berkat kesaktiannya, sebelum ayam jantan berkokok lautan itu hampir selesai.

Rara Anteng amat cemas. Ia tidak bisa tidur. Berkali-kali ia mengintip pekerjaan perompak itu. Hatinya semakin gelisah tatkala ia melihat lautan itu hampir jadi. Padahal itu masih dini hari.

"Duh, apa yang harus kulakukan? Perompak itu benar-benar sakti!" kata Rara Anteng.

Rara Anteng kemudian bersemedi. Pikirannya menjadi jernih. Tak lama kemudian, ia beranjak menuju lumbung padi. Ia mengambil alu dan mulai menumbuk padi. Ayam jantan pun berkokok.

"Hei, aneh sekali! Ada ayam jantan berkokok sepagi ini!" gumam penduduk desa itu. Mata mereka masih terasa berat. Hawa dingin pegunungan menusuk sampai ke tulang sumsum. Mereka pun enggan bangun dan terus tidur nyenyak.

Sementara itu, perompak sakti itupun tersentak ketika mendengar ayam jantan berkokok.

"Oh, pagi telah menjelang. Ayam jantan sudah berkokok. Sungguh aneh! Kenapa ayam jantan itu berkokok sebelum garis putih muncul di ufuk timur?" pikir perompak itu.

Perompak itu amat kecewa dan malu. Ia berdesis garang, "Keparat!! Rara Anteng berhasil mengalahkanku!" Lalu, ia melemparkan tempurung kelapa yang dipegangnya dan pergi meninggalkan tempat itu.

Ajaib! Tempurung yang jatuh tengkurap itu menjelma menjadi sebuah gunung. Gunung itu kemudian dinamai Gunung Batok, sedangkan lautan yang belum berair itu disebut segara Wedi (Lautan Pasir).

Ketika tahu bahwa perompak itu telah pergi, Rara Anteng bersuka ria. Ia berhasil mengalahkan perompak itu meskipun dengan cara yang licik. Rara Anteng kemudian menikah dengan Jaka Seger. Mereka ingin punya tempat tinggal yang damai. Mereka membabat hutan dan mendirikan sebuah pedesaan.

Desa itu dinamai Tengger yang merupakan petikan dari nama Rara Anteng dan Jaka Seger. Nama Rara Anteng didahulukan karena ia berderajat lebih tinggi. Ia keturunan dewa sedangkan Jaka Seger keturunan seorang pendeta.

Kedua orang itu hidup bahagia. Mereka mempunyai banyak keturunan. Sampai kini keturunan Rara Anteng dan Jaka Seger tetap menghuni Dusun Tengger. Mereka disebut Suku Tengger. (Dwianto Setyawan, Cerita Rakyat Dari Jawa Timur)

October 22, 2016

Cindelaras

Cindelaras

BAGINDA Raden Putra, Raja Kerajaan Jenggala adalah seorang raja yang termasyur. Sayang, kadang-kadang sikapnya kurang bijaksana. Misalnya pada istrinya yang kedua, Sang Baginda sering menurut saja, bagaikan seekor kerbau dicocok hidungnya.

gambar cindelaras
Istri kedua Sang Prabu memang cantik rupawan. Namun, hatinya tidak seindah wajahnya. Wanita ini kerap dikuasai rasa dengki yang keterlaluan. Lebih-lebih dalam masalah dengan istri pertama Baginda yaitu Permaisuri.

"Aku seharusnya yang pantas menjadi Permaisuri!" pikir wanita pendengki itu setiap kali. "Satu-satunya jalan ialah dengan menyingkirkan perempuan musuhku itu! Sebelum cita-citaku ini menjadi kenyataan, takkan tenteram perasaanku." Padahal sebenarnya Permaisuri itu orang baik, juga terhadap istri kedua.

Pada suatu hari, istri kedua Sang Prabu melaksanakan rencana yang telah berhari-hari dipikirkannya. Ia berpura-pura jatuh sakit. Sakitnya sepertinya parah sekali. Baginda Raden Putra panik melihat istrinya menderita. Ia berusaha dengan segala cara supaya istrinya bisa sembuh.

Dibutuhkan tabib dan dukun untuk menolong wanita itu. Salah seorang dukun yang sebenarnya adalah orang suruhan istri kedua menjelaskan sebab-sebab penyakit istri kedua kepada Baginda.

"Sesungguhnya sakit Tuan Putri itu disebabkan perbuatan seseorang yang tidak menyukainya. Dia adalah Tuanku Permaisuri sendiri. Agaknya Tuanku Permaisuri merasa iri karena Baginda sangat menyayangi Tuan Putri. Itu sebabnya ia menaruh racun yang nyaris mematikan dalam makanan istri Paduka ini."

Mendengar laporan itu, tanpa menyelidiki lebih jauh, Baginda langsung meradang. Saat itu juga ia menyuruh Patih untuk membawa Permaisuri ke hutan dan membunuhnya di sana. Baginda bahkan tidak peduli bahwa saat itu Permaisuri sedang mengandung.

Patih adalah orang yang bijaksana. Ia tahu sifat Permaisuri. Ia juga tahu bagaimana perangai istri kedua. "Tidak mungkin Permaisuri sampai hati melakukan perbuatan keji, seperti yang dituduhkan istri kedua itu. Permaisuri orang baik. Sebaliknya istri kedua tidak bisa dipercaya. Sayang, Baginda terlalu mudah dipengaruhi oleh perempuan pendengki itu," pikir Patih.

Atas pertimbangan-pertimbangan itu, patih tidak sepenuhnya melaksanakan perintah Baginda. Permaisuri memang dibawanya ke sebuah hutan, namun Patih tidak membunuhnya.

“Mulai saat ini, saya anjurkan Tuanku untuk tinggal di hutan ini. Berusahalah untuk bertahan sampai Tuanku melahirkan. Oleh kehendak Dewata, saya percaya pada suatu saat Tuanku akan dapat kembali ke istana," kata Patih kepada Permaisuri setibanya di sebuah hutan yang terletak jauh dari istana.

"Tetapi, bagaimana dengan Anda, Paman Patih? Bukankah Baginda memerintahkan Anda membunuh saya? Baginda pasti akan menghukummu jika mengetahui Anda justru melindungiku," kata Permaisuri.

"Tentang hal itu, Tuanku tidak perlu khawatir. Saya bisa mengatasinya. Saya akan meyakinkan Baginda. Percayalah."

"Anda adalah orang yang bijaksana. Terima kasih, Paman Patih," sahut Permaisuri penuh rasa haru. "Kesempatan untuk tetap hidup yang Anda berikan tidak akan saya sia-siakan. Saya akan membesarkan anak saya. Semoga kelak dia dapat berjumpa dengan ayahnya."

Sejak saat itu Permaisuri hidup di hutan itu. Sampai pada suatu hari ia melahirkan seorang bayi laki-laki, yang kemudian dikenal dengan nama Cindelaras. Ia tumbuh menjadi seorang anak yang sehat dan cerdas. Ia bersahabat dengan binatang-binatang penghuni hutan itu dan mengerti bahasa mereka.

Pada suatu hari, ketika ia tengah bermain-main di hutan, seekor burung rajawali terbang ke arahnya. Burung itu terbang kian merendah, lalu menjatuhkan sesuatu. Oh, ternyata sebutir telur ayam hutan!

Cindelaras mengambil dan mengamati-amati telur itu. Rasanya telur itu lebih besar daripada ukuran telur pada umumnya.

"Hemmm, rajawali sepertinya sengaja menghadiahkan telur ini padaku. Akan kutetaskan telur ini!" katanya.

Lalu Cindelaras menemui ular, sahabatnya. Kepada ular besar itu Cindelaras minta bantuan untuk mengerami telur pemberian rajawali.

"Boleh saja. Tarauh telur itu," kata ular.

Cindelaras pun meletakkan telur di tengah gulungan badan ular yang panjang itu. Beberapa waktu kemudian telur itu menetas.

"Wah, hasilnya seekor ayam jantan!" seru Cindelaras girang. Lalu dipeliharanya ayam itu sampai besar. Ternyata ayam itu tumbuh menjadi seekor ayam jantan yang nampak kekar dan kuat. Lebih mengherankan adalah bunyi kokoknya.

Kukuruyuuuuuuuk....Jagone Cindelaras.....Omahe tengah alas.....Payone godhong klaras.....Bapakne Raden Putra....

Cindelaras tak habis heran mendengar bunyi kokok yang aneh itu. Oleh karena dorongan rasa ingin tahunya, kemudian ia menanyakan makna kokok ayam itu kepada ibunya.

Permaisuri tercenung mendengar pertanyaan putranya. "Agaknya saatnya sudah tiba," pikirnya. Lalu wanita itu menjelaskan asal-usulnya kepada Cindelaras. Juga, masalah yang menyebabkan sehingga ia terpaksa menyamar menjadi seorang perempuan desa dan hidup di tepi hutan.

"Wah, jadi aku ini anak seorang raja?" tanya Cindelaras terkejut.

"Benar, Anakku."

"Dan nama ayahku Raden Putra?"

"Ya."

"Kalau begitu aku harus menemui Ayah."

"Itu tidak mungkin, Nak," Permaisuri berusaha mencegah. "Pertama, ayahmu tidak akan percaya kepadamu. Kedua, kalau sampai tahu, istri muda ayahmu itu pasti tidak akan tinggal diam."

"Aku akan memikirkan caranya, Bu," jawab Cindelaras. "Yang pasti, aku tidak ingin Ibu terus begini. Hidup menderita, sementara perempuan licik itu enak-enakan hidup di istana."

Permaisuri sadar, tekad anaknya tidak mungkin dicegah.

Pada suatu hari Cindelaras turun ke desa dengan membawa ayam jantan peliharaannya. Setibanya di desa ia menantang adu ayam kepada pemilik-pemilik ayam jantan yang dijumpainya.

Tantangan Cindelaras memperoleh sambutan. Akan tetapi, ayam jantan Cindelaras ternyata sangat perkasa. Tak ada seekor ayam jantan pun dari desa itu yang bisa mengalahkannya.

"Wah, ayam ini kuat sekali!" puji orang banyak.

BERITA tentang seorang anak laki-laki yang memiliki ayan jantan tak terkalahkan segera menyebar ke mana-mana. Hingga akhirnya sampai ke telinga Baginda Raden Putra. Kebetulan Baginda juga punya kegemaran menyabung ayam.

"Aku ingin mencoba kehebatan ayam milik anak itu," ujar Baginda. "Carilah dia, dan bawa ke hadapanku."

Cindelaras pun dibawa menghadap Baginda. Baginda mengamati Cindelaras dengan cermat. "Anak ini nampak tampan dan cerdas. Sepertinya bukan anak orang kebanyakan," pikir Baginda. "Siapa dia sebenarnya?"

Pada saat pandangannya beradu dengan sinar mata Cindelara, Baginda merasakan ada getaran aneh dalam dadanya. Baginda semakin merasakan sesuatu yang aneh.

"Hemmm, jadi kamu yang bernama Cindelaras, pemilik ayam jantan yang terkenal itu? Dan itukah ayammu?" tanya Baginda.

"Betul, Yang Mulia."

"Aku yakin ayamku akan bisa mengalahkan ayammu."

"Kita coba saja," tantang Cindelaras penuh rasa percaya diri. "Namun, apa taruhannya, Paduka?"

"Apa sebaiknya menurut kamu?" balas Baginda.

"Saya tidak punya apa-apa. Maka taruhan saya adalah leher ini," jawab Cindelaras sambil menunjuk lehernya. "Kalau ayam saya kalah, Baginda boleh menyuruh penggal leher saya. Akan tetapi, kalau saya menang, Paduka harus rela menyerahkan separuh dari kerajaan Paduka."

Baginda Raden Putra makin terkesan melihat ketegasan dan keberanian Cindelaras. Tanpa berpikir panjang, beliau langsung menjawab, "Setuju! Dan jangan berlama-lama, sabung ayam kita mulai sekarang saja!"

"Baik, Baginda!" Cindelaras lalu melepaskan ayamnya ke arena. Demikian pula pembantu Baginda.

Dua ekor ayam jantan saling berhadapan. Sesudah saling menaksir kekuatan lawan, mereka pun mulai berlaga. Lagi-lagi ayam jantan Cindelaras menunjukkan keperkasaannya. Dalam waktu tidak terlama lama, ayam Baginda berhasil dibikinnya lari lintang pukang ke luar arena!

"Horeeee!" sorak para penonton mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya.

Baginda menatap tajam ke arah Cindelaras, lalu berkata, "Aku sudah kalah. Dan aku tidak akan mengingkari janjiku. Tetapi sebelum kuserahkan separuh kerajaan ini kepadamu, tolong katakan siapa dirimu sebenarnya."

Cindelaras balas memandang Raden Putra. Sesudah itu ia membungkuk dan membisikkan sesuatu kepada ayamnya. Saat itu juga ayam jantan itu menegakkan lehernya. Kemudian dengan suara nyaring hewan itu berkokok berulang-ulang.

Kukuruyuuuuuuuk....Jagone Cindelaras.... Omahe tengah alas..... Payone godhong klaras.....Bapakne Raden Putra....

Baginda tersentak mendengar suara kokok ayam itu. Sementara dengan suara mantap Cindelaras berkata, "Paduka sudah mendengarnya sendiri, bukan? Nama saya adalah Cindelaras. Ibu saya adalah Permaisuri yang sah dari kerajaan ini. Ayah saya adalah Anda sendiri ....."

"Jadi ... kamu anakku? Tetapi bagaimana mungkin?" tanya Baginda terbata-bata.

Seseorang nampak maju lalu menghaturkan hormat kepada Baginda. Dia adalah si Patih. Patih yang bijaksana itu lalu menuturkan duduk perkaranya kepada Baginda.

"Jadi, ini semua karena ulah saya, Tuanku. Jika Tuanku menganggap saya bersalah, silakan menghukum saya."

"Oh, tidak...tidak!" tukas Baginda cepat. "Justru kamu sangat bijaksana, Paman Patih. Kalau saja waktu itu kau benar-benar membunuh Adinda Permaisuri..... ohh, betapa bodoh dan cerobohnya aku!" seru Baginda sambil menepuk jidatnya.

Baginda lalu menghampiri Cindelaras dan memeluknya erat-erat. "Maafkan ayahmu, Nak. Ayah menyesal sekali." Baginda nampak menyeka matanya. "Bagaimana keadaan ibumu?"

"Ibu, baik-baik saja. Dan Ibu tidak pernah membenci Ayah," jawab Cindelaras.

"Aku akan menjemput ibumu. Aku sendiri yang akan berangkat!"

Begitulah Raden Putra lalu berangkat ke hutan menjemput Permaisuri. Sementara itu, istri kedua dan komplotannya harus menanggung akibat kelicikan mereka. Mereka semua dijatuhi hukuman berat.

Permaisuri kembali diboyong ke istana, dan hidup bahagia di samping suami dan putranya yang tercinta. (Dwianto Setyawan, Ceri Rakyat Dari Jawa Timur)

October 20, 2016

Kisah Raden Panji

Kisah Raden Panji

TERSEBUTLAH dua orang raja bersaudara. Seorang menjadi raja di Daha dan seorang lagi di Keling. Kedua raja ini belum mempunyai anak. Mereka sudah berusaha dengan berbagai cara agar mendapat anak, namun semua usaha itu hampir sia-sia.

gambar kisah raden panji
Hampir putus asa, mereka mengira mandul, maka mereka mencoba berobat. Tabib dan dukun terbaik di negeri itu sudah berusaha mengobati raja, namun tak ada yang berhasil. Kemudian kedua raja itu pergi bernazar (berjanji dengan maksud agar dikabulkan keinginannya) ke sebuah tempat pemujaan di puncak bukit. Tempat itu bernama Batu Kemeras.

Raja Keling bernazar dengan ucapan sederhana saja, "Jika dikaruniai anak, aku akan datang lagi ke Batu Kemeras membawa sirih pinang.

Sementara Raja Daha bernazar akan memotong kerbau berselimut sutra, bertanduk emas, dan berkuku perak.

Demikianlah, atas izin Tuhan terkabullah niat kedua raja itu. Raja Daha dikaruniai anak perempuan yang sangat cantik, sedangkan Raja Keling dikaruniai anak lelaki yang tampan sekali.

Tibalah saatnya Raja Keling dan Raja Daha memenuhi nazar. Mereka pergi ke Batu Kemeras. Meskipun Raja Keling cuma berjanji akan membawa sirih pinang, ternyata ia juga membawa kerbau berselimut sutra, bertanduk emas dan berkuku perak. Itulah ungkapan rasa syukur karena keinginannya mendapat anak lelaki terpenuhi.

Raja Daha yang dulu memasang nazar besar, ternyata tidak memenuhi janjinya. Ia datang hanya membawa anak kerbau biasa.

Selesai upacara membawa nazar, pulanglah kedua raja itu ke negeri masing-masing.

Alkisah, ketika Raja Daha dalam perjalanan, datanglah angin puting beliung yang amat kencang. Putri Raja Daha diterbangkan ke angkasa. Hati Raja dan Permaisuri sangat sedih. Para inang pengasuh dan pengiring lainnya melolong-lolong sambil membanting diri.

Makin lama, makin jauh bayi perempuan Raja Daha itu diterbangkan angin. Ia melewati padang dan bukit, akhirnya jatuh di sebuah taman. Taman itu dijaga sepasang suami istri bernama Pak Bangkol dan Bu Bangkol.

Ketika Pak Bangkol berkeliling dan memeriksa taman, ia menemukan bayi itu tergeletak di tepi telaga. Dengan perasaan terkejut bercampur gembira, Pak Bangkol membawa bayi itu pulang. Istri Pak Bangkol sangat senang mendapatkan bayi perempuan itu karena sudah lama ia ingin mempunyai anak. Kemudian, bayi itu diberi nama "Cilinaya".

Cilinaya dipelihara Pak Bangkol dan Bu Bangkol dengan penuh kasih sayang. Berbagai keterampilan wanita seperti memasak, menenun, menyulam, dan merangkai bunga diajarkan kepadanya. Ia tumbuh menjadi gadis remaja yang luar biasa cantik dan cerdas.

Pada suatu hari, terdengar berita bahwa putra mahkota Raja Keling bernama Raden Panji akan pergi berburu ke hutan perburuan. Rombongan putra mahkota akan singgah di taman.

Pangeran pun tiba pada saat yang sudah ditentukan. Bu Bangkol cepat-cepat menyembunyikan Cilinaya di bawah buluh terundak benang (alat tenun dari Bambu).

Bu Bangkol dan Pak Bangkol menyambut sang pangeran dengan penuh hormat dan ramah. Setelah duduk, berkatalah sang Pangeran…

"Bu, saya datang kemari karena saya bermimpi Ibu mempunyai seorang anak gadis yang sangat cantik. Kecantikan anak Ibu melebihi kecantikan bidadari dari kahyangan. Tak seorang pun putri raja di muka bumi ini dapat menyamai kecantikan anak gadis ibu. Bu, di mana anak Ibu? Saya ingin bertemu dengannya. Ia akan saya peristri."

Pucat pasi wajah Bu Bangkol dan Pak Bangkol mendengar ucapan pangeran. Bu Bangkol lalu berkata,"Tuanku Pangeran, ketahuilah hamba tak punya anak gadis. Apalagi yang cantik seperti kata Tuanku tadi. Kalau Tuan tak percaya, periksalah rumah hamba ini."

"Ha ... ha ... ha, Ibu jangan berbohong. Akan saya periksa rumah Ibu dan kalau saya mendapatkannya, pasti akan saya ambil menjadi istri. Ibu menjadi mertua saya. Ha .... ha ... ha!"

Lalu Raden Panji memeriksa rumah Pak Bangkol dengan seksama. Ia mencari putri Bu Bangkol di bawah tempat tidur dan di gulungan tikar dalam gerobak, tetapi tidak ditemukan. Raden Panji putus asa, kemudian keluar dari rumah.

Sewaktu melewati pintu, dengan takdir Tuhan, tersangkutlah sehelai rambut Cilinaya pada hulu keris Raden Panji. Raden Panji terkejut. Ia mencari asal rambut itu. Cilinaya pun dijumpainya di bawah buluh terundak benang. Raden Panji sangat gembira. Akhirnya, ia menikah dengan Cilinaya.

SETAHUN lamanya Raden Panji tinggal di taman bersama Cilinaya. Mereka hidup berbahagia. Suatu hari Raden Panji minta izin pulang ke negeri Keling. Ia bercerita kepada ayahnya bahwa ia telah menikah dengan Cilinaya, anak penjaga taman.

Raja Keling sangat kecewa karena putranya telah menikah dengan anak orang biasa. Diam-diam raja menyuruh pengawal untuk membunuh Cilinaya. Pengawal pun pergi ke taman menjemput Cilinaya. Pada saat itu Cilinaya baru saja melahirkan.

Sementara itu, Raden Panji sengaja disuruh mencari hati rusa hijau untuk obat ayahnya. Sudah seminggu ayahnya pura-pura sakit. Begitulah siasat Raja Keling untuk memisahkan Raden Panji dengan Cilinaya.

Pengawal membawa Cilinaya ke sebuah pantai yang sepi di Tanjung Menangis. Sesampai di bawah sebatang pohon ketapang yang rindang, berhentilah mereka. Pengawal pun menceritakan maksudnya kepada Cilinaya. Setelah mendengar cerita itu, Cilinaya berkata dengan berurai air mata…

"Baiklah paman, bila memang demikian kehendak Ayahanda Prabu Keling, bunuhlah aku sekarang juga. Akan tetapi, sebelum Paman membunuhku, akan kupetik buah maja untuk mengganti tempat anakku menyusu. Pesanku, bila darahku berbau amis, itulah tanda bahwa aku orang biasa. Akan tetapi, bila darahku berbau harum, ketahuilah aku juga anak seorang raja."

Cilinaya menambahkan, "Nah cabutlah kerismu Paman dan bunuhlah aku. Sampaikan salamku kepada suamiku, Raden Panji.”

Cilinaya duduk berjongkok sambil memeluk bayinya. Rambutnya dilepas terurai. Ia memandang ke langit sambil berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Lalu, pengawal membunuh Cilinaya di bawah pohon ketapang di Tanjung Menangis itu. Tubuh Cilinaya tergeletak di tanah dan mengalirlah darah yang sangat harum baunya, Sang bayi tergolek di samping mayat ibunya sambil memeluk buah maja.

Raden Panji yang diiringi saudaranya, Raden Irun, dan para pengiring yang sedang mencari hati rusa sampai pula di tempat itu. Mereka mendengar suara tangis bayi yang sangat memilukan hati. Berlomba-lomba mereka mencari suara tangis bayi itu.

Ketika bayi itu ditemukan, ternyata di sampingnya ada mayat wanita. Raden Panji segera tahu bahwa mayat itu adalah mayat istrinya dari cincin yang dipakainya. Tidak terkira sedih hatinya.

Tiba-tiba dari arah langit terdengar suara guruh dan petir sambar menyambar. Angin kencang berhembus dan awan hitam tebal menutupi angkasa. Di celah-celah suara petir terdengar suara gaib dari langit, "Hai Panji ....!, buatlah peti mayat istrimu dan hanyutkanlah ke laut. Kelak Tuhan dengan Kuasa-Nya akan mempertemukan kalian kembali!"

Setelah itu Raden Panji menyuruh Raden Irun dan para pengiring membuat peti dari kayu. Peti itu diberi tali sepanjang seribu depa. Setelah selesai, mayat istrinya dimasukkan ke dalam peti. Kemudian, peti itu dihanyutkan ke laut. Raden Panji memegang tali peti itu dan menuntunnya sepanjang pantai.

Selang beberapa lama, datanglah arus laut dan badai yang sangat hebat. Tali pengikat peti putus dan hanyutlah peti mayat itu terbawa arus. Raden Panji berjalan sambil menggendong anaknya yang masih bayi. Anak itu kemudian diberi nama "Raden Megatsih".

Peti berisi Cilinaya itu pun hanyut sampai ke negeri Daha. Pada saat itu, istri Raja Daha sedang berpesta ria di pantai. Ketika permaisuri melihat ada peti hanyut, ia segera menyuruh prajurit untuk mengambil peti itu. Ternyata, peti itu berisi seorang wanita cantik yang sedang tidur lelap. Wanita itu tidak lain adalah Cilinaya yang ditakdirkan hidup kembali dan diambil anak oleh Raja Daha.

Beberapa tahun kemudian. Raja Daha mengadakan pesta besar. Pada pesta itu diadakan acara sabung ayam dengan taruhan amat besar. Para raja dari berbagai negeri datang mengikuti sabung ayam itu. Mereka mempertaruhkan wilayah negeri masing-masing.

Meriah sekali pesta perjudian di kerajaan Daha itu. Di antara para penyabung terdapat seorang anak lelaki kecil membawa ayam jago berbulu hijau, berjengger, dan berekor indah. Kokok ayam itu sangat aneh bunyinya, "Do do Panji Kembang ikok maya. Ayahku Panji, Ibuku Cilinaya!" Semua orang sangat heran mendengar kokok ayam itu. Putri Cilinaya sangat gembira bahwa yang datang ternyata anaknya.

Raja Daha segera menyabung ayamnya dengan ayam Raden Megatsih. Sebagai taruhan, separo Kerajaan Daha akan diberikan kepada Raden Megatsih jika ayamnya menang. Dalam satu gebrakan saja, matilah ayam Raja Daha. Raja Daha menepati janji dan menyerahkan separo kerajaannya.

Putri Cilinaya sangat bersuka cita, Ia kemudian memanggil Raden Megatsih dan memberitahukan bahwa ia adalah ibunya.

Demikianlah, Raden Megatsih kemudian pulang ke Keling, Memberitahukan pertemuannya dengan sang Ibu, Cilinaya.

Raden Panji hampir tak percaya mendengar penuturan anaknya. Ia segera pergi ke Daha. Ternyata benar, istrinya itu masih hidup. Akhirnya mereka bersatu sebagai suami istri yang saling mencintai. (MB. Rahimsyah, Cerita Rakyat Lombok)

October 14, 2016

Konsep Imam Tari Saman

Konsep Imam Tari Saman

Tari Saman merefleksikan kebudayaan Gayo dan Aceh. Pelajaran penting lainnya dari Tari Saman.....?

gambar tari saman gayo lues aceh
TARI Saman dan masyarakat Gayo Lues, Aceh seperti dua sisi dari sekeping mata uang. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Bagi masyarakat yang tinggal di gugusan pegunungan Bukit Barisan ini, menari Saman tak ubahnya seperti berjalan atau berlari.

Tak heran, seperti pernah dikatakan budayawan Jauhari Samalanga kepada The Atjeh Post, jika hampir semua kalangan bisa menarikan hasil karya Syekh Saman ini. Ulama besar ini, sekitar abad ke-13 memodifikasi permainan rakyat Pok Ane menjadi media dakwah bernama Tari Saman.


Karenanya disisipkanlah syair-syair berbahasa Arab juga Gayo yang berisi nasihat, petuah dan sejenisnya ke dalam permainan rakyat itu. Hasilnya adalah sebuah bentuk tarian yang didominasi oleh gerakan-gerakan tepuk dada dan tepuk tangan.

Karena kekhasannya itulah Tari Saman hanya boleh dimainkan atau ditarikan oleh para sebujang alias kaum Adam. Sebabnya agak kurang elok rasanya jika tarian yang terkesan sangat gagah dan dinamis ini dibawakan oleh kaum Hawa atau para seberu.

Tari Saman mulai dikenal publik nasional ketika dipentaskan pada acara pembukaan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada tahun 1975. Waktu itu penggagas TMII, Raden Ayu Siti Hartinah atau Tien Soeharto, minta ditampilkan sebuah tarian daerah yang sangat unik.

Rupanya Saman memenuhi kriteria itu. Ibu Negara Republik Indonesia itu bahkan sangat terpesona. Sampai-sampai ia menyebut tarian ini sebagai Tari Tangan Seribu. Menonton pertunjukan Tari Saman memang seperti menyaksikan gerak lincah dan cepat tangan-tangan para sebujang.


Dalam gerak tangan itu tersirat makna kesabaran, kekompakan, kebersamaan, dan taat aturan. Nilai-nilai itu juga dipatuhi sewaktu para penari Saman menembangkan rengum, dering, redet, syekh dan saur. Jika tidak, minimal benturan tangan pasti terjadi. Irama nyanyian pun tidak harmonis.

Seperti tari Aceh lainnya, Tari Saman dimainkan secara berjamaah. Tari Likok Pulok misalnya ditarikan delapan sampai dua belas orang. Kemudian Tari Ranub Lampuan dimainkan oleh enam atau delapan orang. Saman sendiri bisa dimainkan oleh 10 penari, bahkan pernah ditarikan oleh ribuan orang.

Karena jumlah penari yang banyak itulah, peran pemimpin dalam setiap tarian Aceh menjadi vital. Kehadiran syekh (pemimpin) atau aneuk syekh (asisten syekh) dalam Tari Saman misalnya, mengingatkan pada konsep imam dalam ritual keagamaan atau ulama dan umara dalam kehidupan sehari-hari.

Sesuai konsep itu maka setiap makmum mestilah mengikuti imam. Setiap rakyat haruslah taat pada ulama dan umara. Kata Margaret Kartomi dalam Some Implications of Local Concepts of Space in The Dance, Music, and Visual Arts of Aceh, inilah yang disebut  “…the central point-in-a-circle concept of space…”

Konsep besar yang merujuk pada syariat Islam itu juga terpersonifikasi pada peran syekh dan aneuk syekh. Jika tidak Tari Saman yang diakui UNESCO sebagai Warisan Dunia akan kehilangan identitasnya. (Y. Ahdiat; foto dari Atjehpost)